Powered By Blogger

Sabtu, 09 April 2011

cinta santri.. cerpen

Setiap langkah terukir indah bersama lembaran cerita di tanah parahyangan yang penuh sejarah nansejuk dan tenang ini. Aku duduk menikmati ke indahan pagi dengan kehangatan cahaya mentari yang tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata selain subhanalloh maha suci alloh kuasa sang pencipta yang maha indah, seniman yang maha agung, raja dari segal araja.

 Ku tulis kata demi kata dalam lembaran kertas putih yang ku toreh sebagai cerita yang bisa ku kaji dan ku ceritakan kelak sebagai sejarah yang tak terlupakan dalam hidup.

Hamparan ladang nan hijau yang belum lama di tanam oleh para pahlawan pangan yang ikhlas mencari nafkah dengan penuh cinta dan kasih sayang untuk keluarganya, yang ditanam dengan lantunan dzikir yang tiada henti mereka ucapkan dalam hati.

Tiga tahun sudah aku belajar di kota ini, universitas bandung  pun aku pilih untuk  tempat belajarku dalam mengamalkan titah tuhan ku,dalam torehan ilmu yang tuhan wariskan pada mahluknya, meski aku belum sanggup melakukan nya dengan baik namun aku hanya bisa berusaha dengan segenap kemampuanku dalam menghadang hawa nafsu yang tak pernah berhenti mengusik imanku, bertubi-tubi menembakkan racun dalam fikiran dan hatiku yang lunak nan rapuh.

“To..tok..tok...”

Bunyi koh-kol yang biasa di bunyikan para santri di majlis ta’lim itu, terdengar nyaring pertanda lantunan ayat suci akan di lantunkan dan dipelajari oleh segenap santri yang haus akan ilmu keberkahan, aku bergegas dan beranjak dari batu besar tempat yang biasa aku duduki setiap datang ke sini, ke tempat yang bisa membuatku tenang dengan udara segar yang bisa kuhirup bebas.

Aku berjalan melewati hamparan hijau ladang padi yang hijau, melewati jalan setapak yang agak basah dan licin meski kadang aku ragu karena takut tergelincir jika aku berjalan terlalu cepat.

          Tak lama aku berjalan sampailah aku di depan moshola yang tak begitu besar namun begitu nyaman, mushola panggung namun unik dengan balutan bilik ciwidey sebagai dinding dan asbes berwarna hijau sebagai langit-langitnya.

“yusuf.....”

Terdengar seseorang memanggil namaku tak jauh dari tempat aku berdiri,ternyata itu togar teman kuliahku dari batak

“yusuf.. dari mana kau ini, aku mencari kau kemana-mana... ustad ilyas mencari kau”
“ada apa ustad ilyas mencariku gar?”
            “ aku juga tak tahu lah, lebih baik kau temui dia takutnya ada hal penting yang ingin dia sampiakan pada mu"
            “baiklah aku akan temui beliau sekarang”

Togar menyampaikan pesan ustad ilyas padaku,tak biasanya beliau memanggilku, terbesit dalam fikiranku sepertinya ada sesuatau yang tidak beres yeng tengah terjadi
           

            “dimana beliau sekarang?”
            “di rumahnya lah.. tak mungkin di rumahmu... bah, macam mana pula kau ini”

Ya itulah togar orang batak yang celetak-celetuk namun dia termasuk santri yang pintar di pondok namunagak lemot di kampus
            “bukan bagitu lah bah.. tapi kan siapa tahu saja beta di tunggu di rumah karena pak ustadz mau

nikahin adik nya siti sama aku hahaha...”
Jawabku membalas guyonan togar si batak kocak
           
            “alah terserah kau saja lah ...”

Tak lama kemudian aku masuk ke pondok bersama togar, ku pakai sarung dan peciku karena sebentar lagi waktu ashar tiba. Setelah shalat dan berdzikir beberapa menit aku keluar dari mushola, mushola yang sederhana di tengah hamparan sawah dan di kelilingi gunung yang menjulang tinggi nanhijau, suara gemerisik air sungai yang mengalir jernih tak jauh dari pondok menambah keindahan dan kesejukan di pondok AR-Rahman ini

“tok-tok,, assalammualaikum pak ustadz”

Ku ketuk pintu rumah ustadz ilyas dengan hati penuh dengan tanya, terbesit dalam fikiran ku apakah kelak aku bisa mengetuk hati siti gadis yang telah lama aku sukai seperti halnya aku mengetuk pintu rumahnya, gadis yang tak lain adalah adik dari ustadz ilyas
           
             “waalaikumsalam, tunggu sebentar”

Terdengan suara seorang wanita muda yang begitu merdu, suaranya bak angin semilir yang wangi kasturi menyejukan setiap raga yang terkena panas nya mentari

“eh... kang yusuf, mangga kalebet kang ( silahkan masuk / terjemahandari bhs sunda)”
“muhun hatur nuhun neng”
aku pun duduk dengan wajah menghadap ke bawah, tak kuasa aku berlama-lama melihat paras siti yang begitu cantik aku takut membayangkan keindahan yang belum menjadi milikku 

“ tunggu sebentar ya kang saya panggilkan a yusuf dulu”
“iya silakan neng”

Tuhan... hatiku berbunga melihat senyuman siti, begitu agung kuasamu tuhan menciptakan makhluk secantik itu, akan kah aku bisa memilikinya... itu yang terbesit dalam fikiranku kala itu namun tak lama aku sadar bahwa membayangkan akhwat yang bukan istriku tak baik aku lakukan

Tak lama aku duduk dan sesekali aku meminum teh hangat manis yang siti buatkan untukku 

"sepertinya teh itu terasa manis karena yang membuatnya gadis manis haha" ujarku dalam hati

Rumah yang sederhana dengan tembok berwarna putih dan hijau di pinggirnya begitu nyaman,lukisan kaligrafi denagn ayat al-qur’an yang terpasang di setiap dinding di penjuru rumah menambah suasana religius dan kedamaian yang begitu kental. Bunga mawar di tengah meja tamu begitu wangi menenangkan hati yang gundah dan meluluhkan hati yang tengah bimbang

tak lama ustadz Ilyas datang dengan membawa sebuah surat untukku, aku tak tahu surat apa yang beliau bawa. Bentuknya lusuh,mulai kekuningan dan kelihatan sangat tua sepertinya surat itu sudah tersimpan bertahun-tahun dan tak pernah terbaca

ustads Ilyas duduk tepat di depanku dengan raut wajah yang berseri namun agak sedikit serius seakan beliau sedang mengingat sesuatu

"yusuf.. alaham kau sudah datang"

tanya beliau kepadaku denghan nanda penuh rahasia

"alham pak ustadz.. ngomong-ngomong ada apa ya ustadz ilyas memanggil saya?"

tanyaku dengan tanda tanya yang tak kunjung hilang berdiri tepat di kepalaku

"ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan padamu yas, rahasia yang akan merubah kehidupan mu mulai dari sekarang dan untuk selamanya"














Tidak ada komentar:

Posting Komentar